[Tale of Little Mermaid] Ice Cream to Her

source: instagram.com

Today, like literally hours ago, I saw her story about the picture of a bunch of ice cream. The ice cream we’ve ever talked about. The ice cream you looked curious about. The ice cream, currently, I liked the most. The ice cream you want to taste us with. I… I didn’t say I get jealous. I didn’t say I want ice cream since I was in sickness and just got better on the same day. I… I wanted to say that I got a little braver to think about “being us” again. Baca selengkapnya

Kenangannya Berlalu

source: tumblr.com

Aku tak pernah melihatnya lagi, sosok yang kurindu dengan sendu, yang kenangannya datang bersama sebuah lagu. Saat itu, terakhir kali kulihat sosoknya sambil resah, matanya dihujani dengan ambisi berpisah, lalu bibirnya tak pernah sempat merekah. Tiada kata aku yang salah. Terekam sudah aku yang lelah.

Kini, kulihat ia menggenap, bersama dengan senyumnya yang seperti takkan lenyap. Mungkin kesedihannya sudah terlelap. Digantikan dengan tawa basahku, di kenangan yang berlalu.

Sebagai bagian dari yang sengaja dilewatkan, tentunya aku malu. Pada harapan kosong yang menggantung tak menyatu. Pada cinta sepihak yang lama-lama kehilangan jarak. Denganmu, tentunya aku rindu. Kau yang tahu di mana kenangan itu selalu menunggu.

Bersamamu, tentunya hanya tentang masa lalu.

Mungkin, dalam kondisi ini, perpisahan adalah cara terbaik untuk menjaga kediaman yang sengaja diciptakan. Berbekal perpanjangan jarak dan percepatan waktu, semua masalah seolah telah selesai dan mulai terurai oleh kerelaan dan kelelahan menjaga ingatan. Akhirnya melupakan, akhirnya ditinggalkan dalam titik massa yang tak bisa dipindahkan.

Tak Pernah Berlalu

source: tumblr.com

Ketika aku meniup jendela kacaku, aku tahu kau mulai memudar, tergantikan oleh kedinginan dari ujung jalan. Ketika kau pergi dengan menyisakan tanya yang tak kau tata dengan rapi, aku kembali menyadari keterpercayaan itu lagi-lagi tak terpenuhi. Dingin itu semakin dekat ketika kau tak lagi terlihat. Ia telah membentangkan jarak rentan, yang tak mampu diraih oleh hati yang kelelahan.

Barangkali, kepergian yang berisi rindu telah mampu mematikan angan, menghilangkan pengharapan. Bersama dengan kedinginan yang membentang, kau mungkin telah hilang akal. Dengan cara yang meniadakan kata, kau hadirkan senja yang beku oleh pilu. Kemudian, kedinginan itu tak pernah berlalu.

Kucarikan Ruang

Gambar terkait
source: blogfa.com

Kebanyakan, waktu itu dihabiskan dengan… berlalu.  Dengan cepat dan tak terduga, ia telah memanjangkan malam. Tanpa kata yang meniadakan rasa, ia telah menyisakan rindu yang disembunyikannya di sela-sela canda tawa.

Semakin banyak aku memikirkannya, semakin banyak pula aku memikirkan kemungkinan kalau saja aku telah sengaja berusaha membiarkannya tanpa makna.

Supaya kita tidak bertemu di jalan yang sama.

Supaya kebetulan tidak pernah benar-benar terjadi pada kita.

Supaya, hati ini tak perlu meminta.

Supaya,

Waktu… harapan… mimpi… habis.

Oleh kehidupan miris yang terklamufase dengan manis.

Nantinya ketika aku telah lelah membuatnya tanpa makna, kurahap kau yang berada pada kedalaman hati, bersiap naik ke atas rasa benci. Dengan segala kerendahan hati, kupersilakan pergi. Tanpa perlu melukai bekas cinta yang dulu pernah kau beri.

Nantinya, biar kusimpan saja. Di antara kenangan dan sesuatu yang ingin kulupakan. Supaya tak mengganggu penglihatanku dan perjalanan panjangmu, supaya tak berserakan lalu tersingkir dari ruang yang dulu pernah kau gunakan. Akan kucarikan kau tempat yang lebih baik, yang membuatmu nyaman dan membuatku aman.

Karena waktu terus berjalan, kuharap kau sesuai tujuan. Karena waktu berusaha memberikan pemaknaan, maka sebaiknya kuletakkan kau di dalam ruang yang tak kelihatan.

Ya, sebaiknya di sini saja. Di suatu ruang gelap yang kadang-kadang bisa jadi terang. Yang bisa kususun ulang, kalau-kalau rindu itu datang.